×

Pengakuan Korban Mas Bechi Anak Kiai Jombang: Dari Awal Pacaran, Dipaksa Buka Baju, Main Bertiga, Hingga Disekap

by

OTONITY.com – Dilansir dari berbagai sumber, sudah dua tahun berlalu namun tim gabungan dari Polda Jatim, dan Polres Jombang, gagal menangkap pria berinisial MSA yang diduga melakukan pencabulan terhadap santriwatinya sendiri. MSA merupakan putra dari pengasuh Pondok Pesantren Sadiqiyah Jombang, KH. Mukhtar Mukti.

Pasukan Brimob Polda Jatim dengan bersenjata lengkap, sempat dikerahkan mengepung pondok pesantren yang ada di Desa Losari, Kecamatan Ploso, Kabupaten Jombang pada hari Minggu, 3 Juli 2022. Namun upaya pengepungan tersebut juga gagal menangkap MSA yang telah ditetapkan sebagai buron kasus dugaan pencabulan.

Baca juga: Terkuak! Begini Kronologi Lengkap Kasus Pencabulan Oleh Anak Kiai Jombang

Baca juga: Izin Pondok Dicabut! Imbas Kasus Pencabulan Mas Bechi Putra Kiai Jombang, Santri Akan Disalurkan ke Pesantren Lain

Baca juga: Update Terbaru! Polisi Lakukan Penjemputan Paksa Anak Kiai Jombang Tersangka Kasus Pencabulan, Polisi: Situasi Masih Tegang

Baru-baru ini juga beredar video saat polisi terlibat aksi kejar-kejaran dengan MSA di jalan raya. Bahkan, mobil yang ditumpangi MSA bersama para pengikutnya, sempat dihadang polisi di tengah jalan namun tetap saja gagal untuk ditangkap.

Pengakuan ini disampaikan oleh dua orang korban dalam wawancara CNNIndonesia TV yang diambil pada Maret 2020 silam. Tetapi entah mengapa, kasusnya menguap begitu saja dan tidak kunjung ditindak oleh polisi. Setidaknya, ada dua korban yang berani mengungkap kelakuan bejat tersangka.

Korban 1

Yang pertama adalah korban 1. Korban 1 mengaku bahwa pemerkosaan itu terjadi pada 2017.

“Kejadian terus terulang. Saya merasa miris sekolah yang selama ini diidam-idamkan, niat mencari ilmu dari jauh datang. Ternyata sampai sana diperlakukan seperti itu,” kata korban 1 yang memberi kesaksian dalam wawancara dengan CNNIndonesia TV, yang sudah tayang pada 2 Maret 2020.

“Saya ada rasa tidak terima, ya Allah beri jalan ya Allah,” ungkapnya.

Peristiwa ini terjadi pada 2017. Saat itu, tersangka mengaku memiliki ilmu metafakta yang diklaim tak bisa dijelaskan dengan nalar. Melalui dalih ilmu metafakta, tersangka memaksa korban 1 terus melepaskan pakaiannya meskipun sudah ditolak berulang kali.

“Di kegiatan yang berujung rudapaksa itu dituturkan bahwa pelaku atau MSAT ini memakai ilmu metafakta, mereka mengistilahkannya. Metafakta itu katanya tidak bisa dijelaskan menggunakan akal. Jadi saya harus melepaskan pakaian,” ungkapnya.